Mouse Pelangi

Wavy Tail

Sabtu, 06 Juni 2015

                    GELO
Episode 2
            “Fir... Bangunn buruu” Ulan mengguncang-guncang tubuh Firda yang sejak tadi tak juga bergerak.
            “Kan, gue bilang juga apa. Wacana doang Firda mahh” Balas Nissa. Bukan kali pertamanya Firda susah dibangunin gini, biasanya kalo udah kesiangan buat jogging, gelo akhirnya malah sarapan nasi uduk di warung nci Ranti (bukan bakar lemak, tapi nambah lemak).
            “Ya udah siapa nih mau ikut gue jogging?” Ajak Ulan menyerah.
            “Gue deh” Jawab Nissa.
            “Loe Tar?” Tanya Nissa didepan cermin.
            “Mmmm..nggak deh, ntar gue nyusul aja sama Firda” Balasku yang sejak tadi masih memeluk guling  dengan mata setengah terpejam.
            “Hahaha. Sama ajaa loe bedua” Ujar Ulan tertawa kecil dengan Nissa dan meninggalkan kamar.
Setelah mereka pergi, kamar kembali sunyi. Rasa ingin kembali bermimpi sangatlah besar, siapa tahu saja aku mimpi bertemu Tanza.
            “Gilakkkkk!!!” Firda terbangun dengan ekspresi mata melotot, membuat aku ikut terkejut.
            “Kenapa Fir?” Tanyaku penasaran.
Firda hanya menyodorkan layar handponenya tepat diwajahku.
Gubraakk!!!
***
            Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 06.10. Seharusnya aku masih tidur nyenyak bukan berjalan dikeramaian orang begini. Ya aku dan Firda sudah berada di Taman yang kebetulan dari rumah Ulan jaraknya dapat ditempuh dengan jalan kaki.
            “Pemandangan seindah ini langka banget” Kata Firda dengan pandangan terpaku kearah lapangan basket tak jauh dari taman tempat kami berada. Tak perduli bangku yang ia duduki sedikit kotor dengan daun yang gugur dari pohon disekitar kami. Dari kejauhan sekitar sepuluh meter, terdapat lapangan basket yang dipenuhi dengan beberapa orang yang tak asing dimataku.
            “Dasar loe. Giliran ada Rey aja, rajin bela-belain joging pake celana tidur.” Sambungku terkekeh. Sialan. Aku sama sekali tidak di gubris olehnya.
            Layar handpone yang Firda lihatkan padaku tadi adalah foto Rey di instagram milik Ani. Ya, Ani adalah salah satu anak basket cewek di sekolahku sekaligus cewek yang sedang dekat dengan Rey. Cemburu pasti, tapi Firda harus bersyukur. Karena dengan adanya  Ani yang sering meng-upload foto-foto bersama anak basket, Firda bisa mengetahui keberadaan Rey. Kebetulan Ani adalah teman sekelasku, selain pintar ia juga meliki paras cantik. Tak heran jika ia begitu di gandrungi cowok basket di sekolahku.
            Aku juga ikut menikmati pemandangan pagi ini. Dari setiap langkah lari dan  gerakan Tanza bermain basket didepan sana tak luput dari pandanganku.
            “Gue ketoilet dulu ya.” Pintaku.
            “Kebiasaan loe. Cepetan” balas Firda tanpa memalingkan wajahnya dari layar handpone. Aku yakin ia pasti sedang membuat puisi untuk dikirimkan ke Rey-Lagi.
Kenapa harus kebelet gini disaat asik melihat Tanza bermain basket, kesalku seraya mempercepat langkah kakiku. Bruukk!!!
Aku menabrak seseorang “Sory. Loe nggakpapa?” Ucap cowok itu mengulurkan tangannya, membantuku yang masih terduduk ditanah.
“Nggak. Gue nggak papa” Jawabku lekas berdiri sambil membersihkan sikutku dari sedikit bekas tanah.
“Bagus deh, sorry ya” balasnya singkat lalu berlari kecil menghilang dari pandanganku.
Aku mengenalnya sosok barusan. Bukankah itu Rey? “Huh, bisa juga ternyata ia bersikap ramah” Batinku, melanjutkan langkah menuju toilet.
***
            Bagaimana lemak akan berkurang, jika yang Firda tahu hanyalah makan. Lihat saja sekarang. Dengan wajah polos ia asik menikmati bubur ayam dengan pancaran mata yang sesekali memandangi lapangan basket.
            “Kok malah makan sih?” kepalan tanganku mendarat di pundaknya.
            “Laper gue nunggu loe” balasnya sedigit terkejut.
Sementara Firda sibuk dengan memandangi Rey, aku ikut tenggelam dalam wajah Tanza dikejauhan sana. Sadarkah ia aku masih sering memperhatikannya walau hanya dari kejauhan? Tapi tunggu. Tiba-tiba sorot mataku terhenti pada sosok berbaju biru. Rey. Aku masih ingat, ketika ia menabrakku baju yang ia gunakan bewarna merah. Sepatunya pun berbeda dengan yang ia gunakan tadi. Karena ketika aku terjatuh, yang ku lihat pertama kali adalah sepatunya. Sungguh aneh. Tapi sudahlah, siapa tahu saja ia memang tipe cowok yang suka berganti-ganti pakaian. Kunetralkan pandangan dan pikiranku kembali kepada Tanza.
Ggrrrrrrrr....gggrrrrr...!!!
Hpku bergetar “Hallo” Jawabku.
            “Pengen sarapan apa?” Tanya Ulan.
Firda memberi isyarat dengan mengangkat mangkuk buburnya kearahku dengan senyum modus.
            “Oooh..ohh bubur ayam lan.” Jawabku sedikit gugup.
            “Firda?” Tanyanya ulan lagi,
Aku menaikkan alisku memberi isyarat kepada Firda. Firda membalas dengan mengatupkan kedua tangannya menempel kepipi dan memejamkan matanya.
            “Firda..oh Firda masih tidur lan. Samain aja kayak gue, bubur ayam.” Ujarku masih menahan rasa gugup.
            “Ok.” Tuuut..tuuut..tuuut.
            “Tingkah loe kenapa gitu.” Tanyaku memasukkan hp kedalam kantong jaket.
            “Entar mereka ngamuk kalau tahu kita disini, bukannya joging malah nongkrong. Yuk pulang, kita harus sampe di rumah Ulan sebelum mereka pulang.” Jelasnya seraya menyeruput teh hangat yang hampir habis.
            “Dadah, Rey” Ucapnya melambai-lambaikan tangan kearah Rey-berharap Rey melihat dan membalas. Namun seperti biasa, hanya datang dan melihat wajah Rey saja sudah membuat Firda senang. Kapan ia akan keluar dari status “SecretAdmirernya”nya dan mengaku pada Rey? Itu hanya Firda dan Tuhan yang tahu.
***
            Suara Ulan dan Nissa terdengar dari luar kamar. Aku yang sedang membaca majalah berusaha menahan agar tidak tertawa karena melihat tingkah Firda yang sejak kami pulang dari taman ia langsung kembali keatas kasur seakan-akan ia masih tidur dan tidak terjadi apa-apa.
            “Tar. Bubur ayamnya di atas meja makan yaa.” Jelas Nissa membuka sedikit pintu kamar lalu berlalu.
            Kami ber-tiga sudah berkumpul di meja makan. Siap menyantap sarapan pagi ini.
            “Huuuuaaaahh” Firda keluar dari kamar dengan suara nguap yang khaskeras dan tidak beretika.
            “Cuci muka loe sana, habis itu makan tuh bubur ayam. Ntar keburu dingin.” Sambung  Nissa menunjuk bubur ayam yang sudah tersedia diatas meja.
“Hmmm..” jawab Firda singkat.
Seperinya Ulan dan Nissa tak curiga sedikitpun dengan akal bulusnya Firda. Dengan senyuman liciknya, ia melangkah menuju kamar mandi. Aku hanya bisa menahan tawa dan memasang wajah biasa-biasa saja. Alhasil Firda tidak menurunkan badan, namun kenyang dengan dua mangkuk bubur ayam .

Bersambung....

2 komentar: